Saya yakin banyak dari teman yang tidak tahu nama tanaman ini. Memang ini tanaman temuan baru saya. Cantik ya. Apalagi kalau sudah muncul bunga merah di tengah.
Saya curiga, tanaman ini mempunyai potensi mengandung zat aktif yang mampu melawan berbagai penyakit mematikan seperti kanker atau bahkan HIV. Silakan teman peneliti mencari tahu. Kalau perlu saya bisa mengirimkan tanaman ini dengan gratis. Siapa tahu betul bermanfaat.
Apa betul temuan saya? He he saya tidak tahu. Anggap saja saya sedang bergurau. Tetapi kali ini saya serius mau memberi nama kepadanya Herba Exempla Problema Humana. Mengapa saya ngotot mau memberinya nama? Begini ceriteranya.
Pada suatu ketika, saya dan istri (jelek-jelek begini ternyata laku juga, ada yang mau jadi istri) mengunjungi tempat penjual tanaman hias. Dari beberapa tanaman yang kami beli, saya memilih satu pot. Istri saya heran. Yang saya pilih bukan pot tanaman hias yang bagus, sudah ada beberapa di rumah. Saya tetap ngotot, karena diam-diam saya melihat ada tanaman lain di bawahnya, yaitu si cantik di foto atas.
Selama satu dua bulan saya kebetulan tidak intens memperhatikan kebun-taman rumah kami. Suatu ketika saya kaget karena si cantik ternyata sudah berkembang biak dan menebarkan anak-anaknya ke segala penjuru kebun. Di pot ada, di bawah pohon ada .... Wah sekarang jadi merepotkan. Tanaman cantik telah berubah menjadi rumput liar. Betul-betul merepotkan. Seberapa bersihpun kami membuangnya, selalu saja ada yang masih tersisa. Selang satu dua hari sudah berkembang menjadi besar ... dst.
Itulah alasan mengapa saya memberi nama HERBA EXEMPLA PROBLEMA HUMANAE. Dia contoh yang sangat tepat untuk hidup kita. Beberapa problem dalam hidup datang karena kita sendiri yang mengundang. Mungkin pertama-tama karena kita tidak tahu dampaknya, tapi yang jelas setelah masuk dalam hidup kita jadi betul-betul merepotkan. Berhati-hatilah hidup ...

Pernah mengalami yang seperti ini khan?
[maaf tulisan saya teruskan nanti sesudah membuat puding uji coba ... kalo jadi resepnya saya bagi deh.]
Kembali ke pokok soal. Kesalahan nampaknya memang menjadi bagian yang sulit dihindarkan dari proses mengerjakan kristik. Nanti saya ingin menuliskan beberapa kiat atau tips untuk mengurangi resiko salah itu. Tapi sebelumnya saya mau menuliskan dulu apa yang dikatakan istri saya tentang kesalahan dalam meng-kristik dan dalam hidup.[Akhirnya saya dapat kembali lagi ke layar ini, setelah dua hari pergi dengan pamit hanya untuk bikin puding. Makanan apa gerangan yang harus dibuat sekian lamanya? Ah ngga. Saya hanya memblender tape singkong. Merebusnya dengan tambahan sedikit air dan kemudian mencampurnya dengan serbuk agar-agar. Bahan lengkapnya kapan-kapan pasti saya posting. Yang jelas saat ini, makanan itu sudah masuk kulkas, keluar, masuk perut dan sudah keluar lagi. Enak dan eksotik ....]
Kesamaan
- Kesalahan dalam mengerjakan kristik dapat dijadikan gambaran kesalahan dalam hidup. Keduanya sama-sama menghasilkan akibat yang tidak baik, atau merusak tatanan yang mestinya indah dan membahagiakan. Garis dalam gambar kristik menjadi tidak lurus, bentuk menjadi tidak sempurna. Dalam hidup kesalahan langkah atau keputusan bisa membuat rencana yang sudah terjadwal gagal, hubungan yang selama ini harmonis menjadi berantakan. Semacam itu.
- Satu kesalahan dalam kristik akan membuat langkah pengerjaan selanjutnya menjadi sangat sulit atau macet sama sekali. Kesalahan dalam hidup menghasilkan efek yang serupa. Satu kali saya mengucapkan kata bohong, untuk selanjutnya saya harus membuat berpuluh-puluh kata bohong untuk meyakinkan kalau yang saya katakan itu bukan bohong. Kesalahan baik dalam kristik maupun dalam hidup mempunyai efek berantai. Sebelum kesalahan itu disadari dan dikoreksi, langkah-langkah di belakangnya ikut-ikutan menjadi salah.
- Hanya ada satu cara jitu untuk mengoreksi kesalahan baik untuk kristik maupun untuk hidup yaitu "dibongkar" dan "dikerjakan ulang". Keduanya sama-sama tidak menarik, butuh tekad ekstra. Tapi, apaboleh buat tidak ada cara lain.
- Maka: berhati-hati, teliti, dan konsentrasi adalah yang terbaik untuk mengerjakan kristik. Juga terbaik untuk menjalani hidup. Jangan sampai salah langkah, salah kata, salah keputusan, salah ambil, dst
Perbedaan
Ada satu perbedaan besar. Kalau dalam kristik, kesalahan setelah dibongkar dan dikerjan ulang beres sudah. Setelah selesai, kristik itu tetap sempurna, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Lain halnya dalam hidup. Membongkar kesalahan dalam hidup sendiri, tidak semudah mengurai benang yang sudah terlanjur meliuk-liuk di kain kristik. Mengakui diri sudah melakukan salah saja sulit apalagi "membongkarnya". Banyak kali itu serupa dengan serangan terhadap harga diri. Apalagi kalau orang lain yang menunjuk salahnya atau orang lain mau ikut campur mengurusi.
Kalau kesalahan sudah dibongkar, langkah hidup sudah dikoreksi, saya sudah menjadi orang yang benar kembali. Benarkah? Betul saya saat ini sudah tidak lagi melakukan kesalahan. Tetapi apapun yang sudah saya lakukan (apalagi kesalahan) selalu meninggalkan jejak. Hati saya masih menyimpan rasa salah dan kadang-kadang rasa itu membuat sedih, mengurangi rasa percaya diri, membuat takut, dsb. Orang-orang di sekitar pun perlu waktu untuk memaafkan saya, mengatur langkah dan perasaan agar selaras kembali dengan hidup saya pasca kesalahan itu. Lama-kelamaan efek itu baik pada diri sendiri maupun orang lain akan berkurang, dan akhirnya terlupakan. Waktu punya cara yang ajaib untuk menyembuhkan luka hidup. Syukurlah.
Tapi ingatlah satu hal lagi. Tidak ada yang luput dari tangan sejarah untuk mencatatnya. Sekali saya buat, begitulah yang tercatat dalam sejarah hidup saya. Dalam arti ini, kesalahan dalam hidup sebenarnya tidak bisa dikoreksi seperti halnya dalam kristik. Semua yang kita lakukan dalam hidup, satu demi satu menempel dalam dinding sejarah, menjadi mosaik buruk indahnya hidup. Kesalahan tidak bisa dihapus, tetapi warna noraknya atau garis menyimpangnya dapat disamarkan, dimodifikasi dengan warna dan langkah hidup yang indah di depannya.
Teman-teman, sekali lagi dengarkan nasehat bijak ini (karena keluar dari saya yang sudah mulai dianugerahi rambut putih gratisan tanpa perlu beli cat rambut): berhati-hati, teliti dan berkonsentrasilah dalam hidup.
Lebih baik terkenal sebagai orang bodoh (itu saya sudah menyandangnya) tetapi baik dan benar (itu kalian, yang memang orang-orang baik) dari pada ngetop jadi orang pandai dan sukses tetapi terlalu rajin mengoleksi kesalahan.
Selanjutnya saya akan mengurai [1]. Cara mengurangi resiko salah dalam mengerjakan kristik, dan [2]. Cara mengatasi kesalahan dalam kristik. Saya siapkan dulu ya ... tunggu aja.
Ini potret tomat di kebun kami pada musim kemarau kemarin. Lucu ya... Beberapa pohon tomat di kebun kami berbuah seperti ini. Selain cantik, rasanya juga manis, betul-betul manis.Semua buah cantik itu berasal dari pohon tomat yang subur. Batangnya kuat, daunnya hijau rimbun. Hampir setiap ketiaknya mengeluarkan buah. Karenannya kami memasang tali untuk memperkuat agar tidak patah.
Begitu juga hidup. Buah-buah yang cantik dan indah, hanya muncul dari hidup yang subur. Seperti apakah hidup yang subur itu? Hidup yang penuh kegembiraan sejati, penuh kedewasaan yang matang, penuh kasih... begitulah.
Dengar-dengar, di sejumlah negara maju, kaum muda banyak yang mulai gemar merajut, seperti para nenek mereka. Pasti ada alasannya. Saya menduga, merajut, meng-kristik atau pekerjaan tangan yang lain setidaknya mempunyai tiga manfaat.
Pertama: Latihan Jiwa
Pekerjaan ketrampilan tangan apapun pokoknya yang memerlukan ketekunan dan kesabaran adalah latihan yang sangat baik untuk membentuk jiwa yang tenang, teliti dan sabar.
Kedua: Kepuasan Batin
Walaupun barang hasil kerajinan tangan nampaknya sederhana tetapi pasti memberikan kepuasan batin yang dalam. Kita hidup di jaman dengan kecenderungan serba instan dan konsumtif. Hasil karya tangan sendiri sangatlah berarti. Kita memberi keyakinan kepada diri sendiri: tanganku, hidupku ternyata tidak hanya bisa memakai tetapi juga menghasilkan sendiri. I am a creator.
Ketiga: Mengisi Waktu dengan Kreatif
Selalu dalam hidup ini ada saatnya kita tiba-tiba bingung: sekarang ini mau bikin apa ya? Kekosongan seperti ini sering kita alami pada saat menunggu atau dalam jeda ketika tidak ada acara berarti yang terjadwalkan. Sementara itu batin jernih kita tidak pernah berhenti menginginkan kegiatan yang bermakna. Mengerjakan ketrampilan tangan adalah cara yang sangat baik untuk mengisi waktu kosong ini (to kill the time). Ketika mengerjakannya, setidaknya kamu terhindar dari melakukan yang jahat atau distruktif. Dengan cara itu kita menyelamatkan diri sendiri dari jebakan lobang hitam yang bisa menyedot kita entah kemana.
Kristik mempunyai manfaat yang dimiliki semua pekerjaan tangan. Lebih dari itu, kristik adalah cara yang amat jitu (setidaknya saya sendiri sudah membuktikan) sebagai terapi praktis untuk meredakan marah, menenangkan emosi, menghalau kecemasan dan meluruhkan kesedihan. Buktikan saja.


