
Dalam kenangan akan biyung Sarah Sairah Jogoatmojo, yang dipanggil Sang Khalik 1 Desember 2011 lalu, saya muat satu tulisan lagi (saya tulis tahun 1997-an). Beberapa kali tulisan ini saya pakai untuk memberi gambaran betapa hebatnya profesi seorang ibu rumah tangga.
Saya mempunyai seorang biyung. Dia sudah tua kini. Umurnya mungkin sudah tujuh puluh tahun. Kalaupun berapa persis umurnya sulit dipastikan, gigi ompong dan keriput di sekujur tubuhnya memberikan ceritera yang tidak bisa berbohong mengenai banyak tahun yang sudah dilewatinya.
Sudah lama saya ingin memutar riwayat hidupnya secara utuh, mulai dari masa kanak-kanak sampai saat ini. Bagi yang tidak mengenalnya, kisah hidupnya mungkin terasa biasa. Memang dia tidak pernah melakukan hal-hal besar. Ia wanita biasa, ibu rumah tangga biasa, sangat biasa bahkan.
Cukup menarik bila menghitung-hitung secara matematis. Angka-angka yang keluar bisa sangat fantastis. Taruh kata, biyung mulai bekerja pada usia lima belas tahun, sehingga secara kasar sampai saat ini ia sudah mengantongi lima puluh lima tahun masa kerja. Setahuku, dia belum pernah melakukan cuti besar. Bolehlah beberapa bulan terakhir selama masa kehamilan anak-anak dan saat-saat sakit dianggap waktu cuti. Tapi saya yakin itu tidak akan lebih dari tiga tahun. Kalau demikian lima puluh tahun adalah angka yang aman. Dengan demikian ia sudah bekerja sebagai 'wanita' selama 600 (enam ratus) bulan, 2.400 (dua ribu empat ratus) minggu, atau 720.000 (tujuh ratus dua puluh ribu) hari. Bila sehari ia dari jam lima pagi sampai jam tujuh malam (empat belas jam), maka ia sudah bekerja selama 10.080.000 (sepuluh juta delapan puluh ribu) jam.
Bila angka-angka itu diperincikan lagi dalam tugas-tugas yang sudah dikerjakan biyung sampai saat ini, akan ditemukan angka yang lebih mengundang perhatian.
Mencuci pakaian, dua hari sekali 36.000 kali
Mencuci piring, minimal dua kali sehari 1.440.000 kali
Menanak nasi, dua kali sehari 1.440.000 kali
Merebus air, dua kali sehari 1.440.000 kali
Membuat sayur, sekali sehari 720.000 kali
Menghidupkan tungku dapur, minimal tiga kali sehari 2.160.000 kali
Membuat minum untuk suami, tamu, atau anak,
minimal sekali sehari 720.000 kali
Bekerja di luar rumah (ladang, sawah, tegalan) dua hari sekali 36.000 kali
Memandikan anak (minimal empat anak, sehari dua kali, masing-masing minimal selama tiga tahun) 8.720 kali
Menyuapi anak, minimal 8.720 kali
Membersihkan rumah dan sekitarnya, tiga hari sekali 24.000 kali
Belanja ke pasar, seminggu sekali 2.400 kali
Selain daftar tugas di atas, masih ada banyak tugas lain yang tidak tercatat. Misalnya saja, membuat gaplek dan menumbuknya sebagai bahan tiwul, menumbuk padi, membuat makanan tambahan, dan menjalankan tugas sosial (kondangan, layat, atau menengok orang sakit). Ada deretan panjang tugas-tugas tradisional wanita-ibu yang secara berkala harus dilaksanakannya.
Melihat perbandingan angka-angka di atas, tugas biyung lebih banyak di dalam rumah. Seringkali pekerjaan di rumah dianggap remeh, tidak seperti tugas seorang ayah yang harus mengolah tanah pertanian. Sekilas, nampaknya memang remeh dan bukan pekerjaan besar. Namun kesan itu keliru kalau kita melihat berapa jauh kilometer yang harus dilangkahi biyung dalam pelaksanaan tugasnya. Dalam perhitungan kasar, setiap hari ia berjalan kaki mondar mandir di sekitar tungku, rak makanan, tempat penyimpanan kayu, sumur, halaman, tempat sampah menempuh jarak rata-rata satu kilometer. Di tambah perjalanan ke pasar (2 km x 2.400 = 4.800 km) dan perjalanan ke tempat pertanian (1 km x 36.000 = 36.000 km), total perjalanan yang sudah ditempuhnya dengan berjalan kaki adalah 760.800 km.
Tentu saja angka-angka di atas bersifat sangat kasar. Tidak dapat dikatakan hari-hari yang dilalui biyung sama padat dan sibuknya. Hari-hari tersibuk tentu saja berlangsung selama kurang lebih dua puluh lima atau tiga puluh tahun masa perkawinan dengan ayah. Sebelum menikah, kendati sudah harus mengerjakan tugas-tugas yang khas bagi seorang wanita (memasak, mencuci, dan mengasuh anak kecil) hari-harinya belum sesibuk dan seberat ketika ia sendiri masuk ke dalam perkawinan. Begitu juga sepuluh tahun terakhir ini ketika anak-anak sudah besar dan mulai berkeluarga, ia mempunyai taraf kesibukan yang berbeda.
Kendati demikian, saya tetap mempertahankan angka kasar di atas, sebagai kompensasi dari banyak tugas ekstra lain yang harus ia tanggung. Yang jelas, biyung hanya mempunyai anak laki-laki saja, yang nota bene tidak bisa membantu banyak pekerjaan seorang biyung. Kami bisa menanak nasi, menjerang air, dan membersihkan rumah. Namun, itu bukan pekerjaan rutin kami. Hanya kalau biyung sedang tidak bisa saja kami mendapat tugas itu. Memasak sayur dan membuat lauk tetap monopoli biyung. Itu susahnya tidak mempunyai anak wanita, kata biyung.
Saya kira, angka-angka itu akan hidup bila disambungkan dengan acara harian yang secara rutin ia jalani. Acara harian ini saya ambil dari tahun-tahun masa kecil saya (beberapa tahun sebelum ayah meninggal) dan yang pada dasarnya masih tetap berlaku untuk sekitar sepuluh tahun sesudah kematian ayah.
05.00 Menanak nasi, merebus air, menghangatkan sayur
06.00 Menyediakan minum, membersihkan kandang, mencuci peralatan masak
07.00 mencuci piring, pakaian, berangkat ke tanah pertanian atau mulai menumbuk padi kalau tidak kerja di luar rumah berarti bisa mengerjakan macam-macam hal: menjemur padi, mempersiapkan diri untuk masakan siang
10.30 mulai masak untuk makan siang
12.00 cuci peralatan masak, cuci piring, membalik jemuran (biar keringnya merata)
14.00 pergi ke sawah lagi atau melanjutkan menumbuk padi, mengerjakan pekerjaan di rumah (memilih benih padi, bikin minyak goreng, menguliti kacang atau kedelai)
16.30 mengangkat jemuran, bersiap masak untuk makan malam
18.00 makan malam, cuci piring, cuci peralatan masak (dia tidak pernah membiarkan alat dapur tertumpuk dalam keadaan kotor)
19.00 melanjutkan pekerjaan yang bisa dilakukan malam, mandi
20.30 tidur
Jam-jam seperti itu tidak pernah persis, hanya perkiraan saja. Pekerjaan-pekerjaan juga tidak susul menyusul secara tertib. Sering kali biyung harus melakukan dua atau tiga pekerjaan sekaligus. Memasak sambil momong dan memilihi kacang. Mencuci pakaian sambil membuat minyak goreng, dst.
Biasanya dari pagi sampai malam praktis biyung tidak sempat beristirahat. Selalu saja ada yang dikerjakan. Kadang-kadang sejenak ia melayani tetangga yang datang atau tamu, tetapi kemudian segera asyik dengan pekerjaannya sampai malam tiba. Bahkan, ia tidak punya waktu khusus untuk makan. Ia makan sekenanya saja, satu dua suap sudah cukup. Sering makan dalam arti sungguh (dengan piring dan tidak hanya satu dua suap, walaupun pasti tidak ada separo jatah makan saya ketika es em pe) baru sempat ia lakukan pada malam hari, setelah pekerjaan-pekerjaan hari itu selesai dan mandi. Dia selalu mandi kalau pekerjaan-pekerjaan sudah selesai (berarti hampir selalu malam), karena kalau nanti masih harus kerja lagi akan berkeringat lagi. Percuma, katanya.
Dalam usia yang sudah senja kini, biyung masih bekerja. Dia tinggal serumah dengan keluarga kakak nomer tiga, yang mempunyai dua puteri dan tambahan seorang bayi kecil. Walaupun tidak pernah disuruh dan bahkan seringkali justru dilarang bekerja, ia tidak berhenti bekerja. Memasak, mencuci peralatan dapur, dan renik-renik pekerjaan di rumah sudah begitu mendarah daging sehingga ia justru tersiksa kalau tidak menyentuhnya. Ia baru berhenti kalau tubuhnya sudah benar-benar tidak dapat bergerak.
Kadang-kadang pekerjaan biyung tidak terbatas hanya untuk keluarga kakak nomer tiga. Kalau isteri dua kakak yang lain sedang repot atau pergi, pekerjaan dapur keluarga mereka tetap jatuh ke tangan biyung. Ia tidak pernah tega melihat anak dan cucu-cucunya 'telantar'.
Saya tidak pernah sangsi akan ketotalan biyung pada tugas-tugasnya. Itu terbukti dengan angka-angka prestasi yang sudah diraihnya, dan dengan semangatnya yang tetap tidak padam kendati tubuh sudah lemah.
Saya juga tidak pernah ragu akan ketulusannya. Ia tidak pernah bertanya "mengapa harus bekerja" atau "untuk apa harus bekerja", dua pertanyaan modern yang dihubungkan dengan 'spiritualitas kerja'. Ia tidak bertanya tapi bekerja, 'just do it'. Istilah 'kewajiban seorang ibu atau seorang wanita' tidak pernah terdengar dari mulutnya. Dia mencuci piring karena ia tahu piring itu akan digunakan lagi untuk makan dan saat itu masih kotor. Dia memasak karena ia tahu suami dan anak-anak pada jam sekian akan makan dan saat itu belum ada makanan.
Yang ada di balik semua kerelaan melaksanakan pekerjaan seberat apapun adalah cinta kepada orang-orang yang ada di dekatnya. Bagi seorang ibu seperti dia, tidak ada hal lain yang lebih penting selain kesejahteraan dan kegembiraan keluarga. Asal semua dapat menikmati kebahagiaan, ia rela melakukan segala-galanya.
Angka-angka yang saya sebut di atas bisa membuat gila bila bukan prestasi yang mengalir dari cinta. Sekali saja ia menyebut soal balas jasa dari anak-anak, matematika cinta dengan angka-angka fantastis itu (lebih konkrit lagi kalau angka-angka itu dihitung untuk masing-masing anak) akan berubah menjadi asuransi tidak terbayarkan oleh anak-anaknya. Syukurlah biyung saya sungguh mencintai dengan tulus. Dalam keadaan tersakiti sekalipun oleh anak-anaknya, ia tidak pernah menyebut soal balas jasa. Dia tidak pernah menyinggung soal rahim yang menumbuhkan, soal air susu yang membesarkan, atau soal air mata yang menyertai perkembangan anak-anaknya.
Sikap tulus-cinta ini tidak hanya menggoreskan angka-angka itu dengan tinta emas dalam hidup anak-anaknya, namun juga menempatkannya pada deretan para pahlawan dunia. Bintang jasa pantas disematkan di dadanya. Dia biyung saya, wanita yang setia.
Biyung, begitulah saya biasa memanggil ibu saya. Setelah beberapa kali ada sms penipuan "Tolong belikan mama pulsa ..." saya akhirnya membalas, "Waduh salah. Saya tidak pernah punya mama. Saya hanya punya biyung". Saya memang hanya punya biyung, bukan simbok, ibu atau mama. Dia orang Jawa agak kuno dari kampung. Begitu juga saya yang dilahirkannya. Karenanya saya tidak malu atau ragu tetap memanggilnya biyung, sampai dia dipanggil Tuhan hari Kamis, 1 Desember 2011 jam 16.00 lalu, dalam usia 80 tahun lebih. Terima kasih biyung,
untuk semua kasih setiamu.
Selamat jalan,
masuklah dalam kebahagiaan
sejati yang tanpa batas waktu.
Dalam kenanangan akan dirinya saya muat tulisan yang saya buat tahun 1997-an. Foto sebelah diambil beberapa tahun sebelumnya.
Sekarang ini biyungku (biyung = ibu, bahasa Jawa) tinggal di dapur. Tempat tidurnya (gledheg: tempat tidur kayu yang sekaligus lemari penyimpanan barang-barang, buatan ayah) menjadi satu dengan tungku masak, lemari makanan, tempat peralatan makan dan dapur, serta kandang ayam. Ini agak kelewatan, tapi dia senang. Rumah kakak saya memang masih kecil, namun dia menghendaki untuk tinggal di sana. Kondisi yang demikian membangkitkan banyak kenangan bagi saya yang mengenalnya. Biyung dan dapur.
Dunia biyung adalah dapur. Ia menghabiskan beratus-ratus ribu jam di tempat itu. Kalau setiap hari ia rata-rata bekerja enam jam di dapur, seluruh waktu yang dihabiskannya sampai saat ini sudah 4.320.000 jam. Di tempat itu, ia memasak, momong (mengasuh anak), menumbuk padi, mencuci piring, berkomunikasi dengan suami dan anak-anak, makan, dan menangis.
Tidak ada peralatan istimewa di ruang itu kecuali tungku kayu (pawon), sejumlah peralatan masak, lesung penumbuk padi, dan sebuah bangku. Dinding dan langit-langitnya berjelaga hitam dan lantai tanah dipenuhi abu serta potongan kayu bakar. Dapur yang ditempatinya tidak berbeda dengan dapur rumah-rumah lain di kampung saya. Kurang lebih seperti itu.
Yang istimewa adalah kehadiran biyung di sana. Dialah wanita satu-satunya di rumah kami. Hanya pada dirinyalah kami temukan figur kelembutan dan kehangatan perhatian seorang wanita. Dia pulalah yang memegang kunci untuk makan sehari-hari. Dalam perannya sebagai penyedia makanan ini, dia praktis memotori seluruh kegiatan keluarga.
Oleh karena itu, dapur kemudian praktis menjadi tempat berkumpul keluarga setiap hari. Tidak ada satu tempatpun di rumah kami sehangat dapur. Di sana dipersatukan ayah yang sedang menikmati teh hangat setelah pulang dari sawah dan kehujanan, anak-anak yang asyik membakar singkong sambil berdiang, dan biyung yang tetap asyik memasak.
Sampai sekarang ini, saya tidak merasakan tempat lain yang lebih nyaman dari pada dapur tempat tinggal biyung. Makan dengan sambel bawang putih sambil duduk beralaskan sabut kelapa di muka tungku menyala. Biyung ada di sana, berceritera tentang kucingnya yang beranak dua, tentang beberapa teman sebaya yang baru-baru ini mati, tentang peralatan dapur yang baru dibelinya, atau tentang cucu-cucu yang nakal. Biyung ada di sana, mengisap rokok lintingan sendiri dan minum teh hangat kesukaannya.
Biyung mampu menjadikan dapur sebagai dunia yang indah. Bukan dengan perlengkapan yang mewah atau makanan yang mahal-mahal. Dia menghiasi dunianya dengan kasih dan kesetiaan. Ia tidak perlu berkata-kata banyak bertindak yang aneh-aneh untuk mengumpulkan kami. Cukup dengan sikap sederhana seorang ibu yang tidak mengeluh, yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya dengan tekun.
Dapur menjadi tempat yang indah karena pada dasarnya adalah hati biyung sendiri. Hatinya yang lapang menerima anak-anaknya duduk-duduk dengan tenang, hatinya yang menyediakan kemurahan bagi siapapun yang lapar, hatinya yang mampu memberikan kehangatan bagi yang kedinginan. Dapur adalah penjelmaan dirinya yang mencinta.
Ketekunan dan kasih setia itulah yang juga membuat masakan apapun yang dibuatnya terasa sedap. Bagi kami, tidak ada seorangpun bisa membuat masakan seenak biyung. Rasa garam, gula, dan bumbu-bumbu lain terpadu dengan pas, tidak kurang tidak lebih. Ketekunan dan kasih setia itu jugalah yang membuat kami selalu kangen berkumpul di sekitar tungku dan biyung, membagi hidup bersama-sama.
Kisah inspiratif ini asli buatan saya (masdriyo) dan pernah saya muat di blog lain. Karena ada orang yang minta ijin menterjemahkan kisah ini (Mr John, entah orang mana), saya kira kisah ini ada kandungan inspirasi yang berarti.
Sebelum wafatnya, seorang ayah yang terkenal karena kesuciannya memanggil keempat anaknya. "Anak-anakku, aku hampir mati. Tidak ada harta atau kepandaian luar biasa yang dapat kuwariskan kepada kalian." Kata anak-anaknya, "Kami tahu ayah adalah orang yang suci. Wariskan kesucian itu kepada kami. Itu saja yang kami dambakan, kami tidak menginginkan apapun yang lain." Sang ayah merasa senang dan puas, maka iapun memberikan pesan terakhir, "Baik sekali anak-anakku. Kalian sudah mengerti harta yang paling penting dalam hidup ini. Tapi kesucian tidak dapat diwariskan. Setiap orang harus mencari dan memperjuangkannya sendiri. Lihatlah hidupku dan kalian akan tahu bagaimana kesucian itu dapat dicapai." Setelah itu meninggallah sang ayah.
Segera setelah masa berkabung berlalu, masing-masing anak bersiap-siap pergi untuk mencari jalan menuju kesucian. Anak yang sulung pergi ke suatu gunung yang sepi. Di sana ia menghabiskan waktu untuk bertapa dan berpuasa. Ia ingat betul, bertapa itulah yang dilakukan ayahnya dahulu. Anak yang nomer dua pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk menemui guru-guru yang bijaksana. Ia yakin ayahnya menjadi suci karena mengerti sungguh-sungguh makna kehidupan. Anak yang nomer tiga juga pergi mengembara ke tempat-tempat yang jauh, bukan untuk mencari guru-guru kebijaksanaan seperti kakaknya, tetapi untuk mengunjungi tempat-tempat suci. Ayah menjadi suci karena mendapat berkat dari tempat-tempat ini, pikirnya.
Setelah semua kakaknya pergi tinggallah anak bungsu yang kebingungan. Ia sebenarnya juga ingin pergi mencari jalan menuju kesucian seperti kakak-kakaknya. Namun, ia sendiri bingung untuk memilih jalan yang mana. Semua jalan yang sekarang ini dilalui kakak-kakaknya sudah dilewati ayahnya. Jalan manakah yang paling baik?
Selain bingung menentukan jalan mana yang harus dilalui, ia juga bingung karena tidak ada orang yang menggantikan pekerjaan ayahnya. Selama ini ayahnya mengerjakan sebidang kebun kecil di belakang rumah untuk makan seluruh keluarga. Ia harus mencari air dari tempat yang jauh karena di sekitar tempat itu memang tidak ada mata air. Dalam sehari, ia beberapa kali bolak balik memikul kantong-kantong air. Sebagian air itu digunakannya untuk mengairi ladangnya sendiri dan sebagian yang lain disisakan untuk orang-orang yang singgah. Rumah kecilnya selalu disinggahi para pejiarah atau siapapun yang kebetulan melintasi jalan di depan rumah itu. Ia selalu menyambut kedatangan mereka dengan senyum. Itulah yang dikerjakannya setiap hari, dan entah mengapa orang-orang menganggapnya sebagai orang suci.
Setelah orang suci itu wafat ternyata orang-orang tetap singgah di rumah itu. Karena tidak ada orang lain, terpaksa si bungsu melakukan pekerjaan ayahnya. Mula-mula, ia mengerjakannya dengan terpaksa dan menggerutu. Mengapa aku harus melakukan hal remeh seperti ini sementara kakak-kakaknya mungkin sudah maju dalam kesucian mereka. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa sebagai orang suci dulu ayahnya mau repot-repot menjadi pencari air. Bukankah duduk berdoa dan memberi wejangan lebih cocok untuk seorang suci?
Entah mengapa lama kelamaan si bungsu akhirnya menemukan kegembiraan yang ajaib. Orang-orang yang kehausan setelah melakukan perjalanan di tengah padang selalu keluar dari rumahnya dengan wajah ceria. Air yang disediakannya ternyata membuat mereka kembali hidup dan bersemangat. Mereka tidak pernah memberikan apapun sebagai imbalan air minum itu, sudah sejak dahulu ayahnya memang menyediakan air secara cuma-cuma. Namun kegembiraan mereka sudah memberikan upah yang tidak terkira bagi jiwanya.
Hari berganti bulan dan tahun, si bungsu terus mengerjakan pekerjaan remeh itu. Kadang-kadang muncul keinginan untuk menyusul salah seorang kakaknya. Namun, akhirnya ia malah lupa untuk mencari jalan menuju kesucian.
Ketika keempat anak itu meninggal, mereka berharap dapat cepat berkumpul bersama sang ayah di sorga. Sebelum masuk sorga ternyata mereka harus menunggu di api pencucian dahulu. Setelah beberapa saat menunggu, si bungsulah yang pertama dipanggil untuk masuk sorga. Kakak-kakaknya sudah menjadi pertapa yang disegani, dan orang bijaksana, dan pejiarah yang masyur. Mengapa bukan mereka yang dipanggil dahulu. Sedangkan ia hanya orang yang menyediakan air saja?

Waktu itu umurku 14 tahun, aku masih duduk di kelas 2 SMP. Masa-masa paling berat bagi masa remajaku. Pengalaman traumatis, perubahan bentuk tubuh yang demikian cepat, dan senyawa-senyawa kimia yang mulai bekerja, membuat hari-hariku terasa berat. Aku ingat aku naksir seorang cowok di sekolah kami, namun karena dia begitu ‘high’ aku setengah mati berusaha memendam perasaan itu. Ditambah lagi bisnis ayahku yang sedang terpuruk, sampai-sampai kami sekeluarga hanya makan sayur bening setiap hari dan hidup hampir-hampir vegetarian. Ibuku juga sering bercerita (curhat mungkin) mengenai susahnya perekonomian keluarga, juga mulai terjadi pertengkaran-pertengkaran kecil di rumah. Tentu saja nilaiku drop. Aku yang biasanya bisa menghuni 5 besar di kelas, kini tiba-tiba menyentuh peringkat 20an.
Aku stress, selama ini aku selalu merasa aku adalah anak perempuan jelek, gendut, itik buruk rupa, yang berolahraga pun sering kikuk. Teman pun aku hampir tidak punya, belum lagi ada anak perempuan lain yang namanya sama denganku, namun dia begitu cemerlang, cantik dan supel dan memiliki banyak sekali teman. Aku benar-benar tidak bahagia, ditambah lagi aku tak punya uang dan sekarang kualitas otakku yang selama ini kubanggakan pun sudah runtuh. Mungkin kalian pernah merasakan masa-masa berat seperti ini juga pada suatu masa? Saat-saat dimana kalian merasa benar-benar tidak ada harganya sebagai manusia, sendirian, dan tanpa masa depan. Ketika wali kelasku menanyakan mengapa nilaiku terjun bebas, aku hanya bisa menjawab dengan diam, namun setelah di rumah aku menangis.
Hiburanku hanya menghabiskan hari- hari dengan mengurung diri di rental buku milik ayahku, membaca apa saja. Maka itu, jika guru bahasa Indonesiaku menugaskan kami membuat tulisan atau puisi, aku tidak terlalu banyak kesulitan karena mungkin dari kebiasaanku membaca, dan menulis buku harian untuk curhat (aku anak yang sangat pendiam sehingga untuk curhat pun tidak bisa langsung pada orang lain, bahkan kepada ibuku sendiri). Aku ingat saat itu ada tugas membuat puisi, dan
sekaligus aku mencurahkan kekesalanku pada pelajaran, dalam puisi yang berjudul “Matematika” itu. Tak disangka Guru Bahasa Indonesiaku memberi nilai tinggi untuk puisi yang aku sendiri menilainya sebagai karya yang asal-asalan. Beliau hanya memberi nilai 75 untuk 3 puisi yang dibuat 3 anak. Keduanya anak cowok, dan hanya aku yang cewek (selama ini Guru BI-ku tersebut agak pelit pujian pada anak perempuan). Ia membahas puisiku di depan kelas, dan gara-gara itu ia menghafal namaku. Astaga, jarang lho ada guru bisa menghafal namaku, saking pendiamnya aku. ia menyarankan agar aku terus berlatih menulis.
Karena hal itu aku jadi bersemangat lagi dalam hidupku, karena paling tidak aku merasa aku bisa melakukan sesuatu. Aku bisa menulis, aku bisa menulis, dan tulisanku dinilai bagus! Inilah inspirasi bagi kelanjutan hidupku. Kenapa aku bercita-cita jadi penulis? Karena waktu itu kupikir aku hanya bisa malakukan itu, aku suka menulis, dan menulis untuk hidup bagiku adalah bayangan yang menyenangkan. Kenyataan selanjutnya adalah mengapa aku menjadi seperti sekarang, dokter, kenapa aku bekerja di depkes, sama sekali tak terbayang waktu itu. Hanya jelas saja, kata-kata pujian dari guru BI tersebut yang melecut semangatku untuk bangkit, untuk menjadi seseorang, untuk menunjukkan pada dunia bahwa aku ada, dan karena itu aku berusaha semaksimal mungkin. Aku mungkin tidak bisa menjadi seperti sekarang tanpa kata-kata penyemangat dan perhatian dari Anda, Bu Guru. Sampai sekarang aku masih sangat mengahargai ucapan Anda, walau entah dimana Anda berada sekarang.
Dedicated to my ex Indonesian language teacher : Ms. Irmina….
Thank you so much…. without your words I couldn’t be ME now….
NB: Untuk semua orang, jika Anda merasa perlu dan terdorong untuk menghargai hasil karya seseorang ungkapkan saja dengan jujur, mungkin sepatah atau dua kata pun, itu akan menjadi motivasi bagi orang bersangkutan. Anda tidak akan tahu apa akibat dari kata-kata atau perbuatan Anda yang menurut Anda mungkin hanya kecil dan sekedarnya. Anda tidak akan bisa mengetahui sejauh mana hal itu mengubah hidup seseorang. jadi usahakan semuanya adalah kata-kata dan perbuatan positif yah^^…..
Kepada seorang sahabat lama, saya menulis email begini:
Ndul, aku kelingan jaman mbiyen tau njilih clana klambimu nggo resepsi ulang tahunan ning hotel gedhe. Teka ndisik dhewe, wong wedi telat ora komanan suguhan, jan malah dadi bingung. Milih meja mburi, durung ana wong liya teka. Reka-reka nggo suvenir, aku ngesak peso lan garpu sing wis ditata apik jejer renteng ning meja. Aman. Tekan wektune, kabeh lancar. Tamu-tamu lan sing nduwe acara wis lengkap. Acara lan suguhan ya ora kurang lancare.
Pancen nyata, begja cilaka ora bisa dijangka. Tekaning acara doa, aku didapuk munggah panggung. Cilaka aku, bisa kedenangan nggonku ngesak suvenir. Dag dig dug aku, ora karuwan, ning ya tetep maju, ora bisa selak. Begjaku wae, clana-mu sing tak enggo gedhe sakabehe. Slaman slumun, aku slamet.
Ndul, aku seneng nduwe kanca sedulur kowe. Atimu gedhe, kaya clana mu sing nutupi cilaka ku. Mbuh kowe saiki ning endi, makarya apa. Muga tambah-tambah kreasi seni mu. muga tambah jembar atimu.
aku, thomas subandriyo
Ndul, aku kelingan jaman mbiyen tau njilih clana klambimu nggo resepsi ulang tahunan ning hotel gedhe. Teka ndisik dhewe, wong wedi telat ora komanan suguhan, jan malah dadi bingung. Milih meja mburi, durung ana wong liya teka. Reka-reka nggo suvenir, aku ngesak peso lan garpu sing wis ditata apik jejer renteng ning meja. Aman. Tekan wektune, kabeh lancar. Tamu-tamu lan sing nduwe acara wis lengkap. Acara lan suguhan ya ora kurang lancare.
Pancen nyata, begja cilaka ora bisa dijangka. Tekaning acara doa, aku didapuk munggah panggung. Cilaka aku, bisa kedenangan nggonku ngesak suvenir. Dag dig dug aku, ora karuwan, ning ya tetep maju, ora bisa selak. Begjaku wae, clana-mu sing tak enggo gedhe sakabehe. Slaman slumun, aku slamet.
Ndul, aku seneng nduwe kanca sedulur kowe. Atimu gedhe, kaya clana mu sing nutupi cilaka ku. Mbuh kowe saiki ning endi, makarya apa. Muga tambah-tambah kreasi seni mu. muga tambah jembar atimu.
aku, thomas subandriyo

Kehendak yang kuat saja belum cukup. Kita perlu melengkapi diri dengan ketahanan mental untuk mengusahakan segala sesuatu dengan gigih. Artinya, kita perlu mempunyai ketekunan, kesabaran dan daya tahan yang tidak gampang patah.
Ya Tuhan, aku ini gampang bosan dan cepat menyerah. Kini aku menyesal sendiri. Rupa-rupanya, tidak ada hasil memuaskan dan kebahagiaan sejati yang turun secara cuma-cuma. Semua harus diusahakan dengan gigih sepanjang waktu. Begitulah jalan yang tidak bisa dihindari untuk hidup di dunia ini.
Aku serahkan diriku yang lemah ini ke dalam tanganMu. Ubahlah aku ya Tuhan. Rasukilah diriku dengan kekuatanMu sendiri. Jadikan aku pribadi baru yang mempunyai semangat dan kekuatan melimpah.
Dengan tangan yang kuat dan kaki yang kokoh akan kusongsong hidupku. BersamaMu, sedetikpun aku tidak akan menyerah. Aku akan terus bekerja sampai tetes keringatku yang terakhir. Akan kutelusuri jalan sampai ke segala ujungnya. Sampai tercapai yang kutuju, aku akan terus berjuang.
Engkaulah sumber hidupku, kumuliakan namaMu, selama-lamanya. Amin.

Dulu sebelum senang membuat kristik, saya hobi menulis. Buku yang saya pasang ini adalah satu dari 4 buku saya yang sudah terbit. Teman-teman bisa membelinya pada toko buku online atau toko buku yang memajang terbitan Kanisius Yogyakarta.
Dalam buku ini saya memasukkan 65 kisah kecil yang berhubungan dengan keluarga. Misalnya saja di bagian tentang suami istri ada 10 kisah, tentang anak-anak juga ada 10 kisah. Masih ada lagi tentang ibu, tentang ayah, pendidikan anak, rumah dan kebijaksanaan umum.
Sebagai contoh saya akan mengutip kisah ke-27, "Hati yang tak Tersakiti"
Cinta seorang ibu tiada batasnya. Ada sebuah legenda mengerikan yang diceriterakan di daerah Prancis Selatan.
Seorang pemuda tergila-gila kepada wanita yang sangat jahat. Wanita itu berkata, "Demi cintamu kepadaku, maukah kaubawakan untukku hati ibumu sebagai makanan anjing kecilku ini?
Dibutakan oleh cinta asmara, pemuda itu pun pulang ke rumah. Ia membunuh ibunya, mengambil hatinya dan dengan bergegas membawanya kepada sang kekasih. Dalam perjalanan, ia terpeleset dan jatuh. Hati ibunya yang penuh darah itu ikut terjatuh juga.
Hati itu bertanya, "Anakku, apakah kamu terluka?"
===
Cinta palsu meminta bukti, tetapi cinta sejati memberikan bukti tanpa diminta. Seorang ibu sejati membuktikan cintanya walaupun itu berarti ia menyerahkan hati yang terluka.
Pola kristik Pelukan Ibu
150w X 240h Stitches, 27 x 44cm, 15 colors,
Pattern code 1496, Price $15 [Rp 150.000,-]
masdriyo@gmail.com 081 2270 6478
150w X 240h Stitches, 27 x 44cm, 15 colors,
Pattern code 1496, Price $15 [Rp 150.000,-]
masdriyo@gmail.com 081 2270 6478

Teman-teman, ini renungan yang saya tulis hampir 20 tahun lalu. Seorang teman yang sekarang tinggal di Singapura masih menyimpannya. Semoga bisa untuk sekedar baca-baca.
Anakku,
bagaimana kabarmu, apakah kamu baik-baik saja? Di rumah, ibumu juga sehat. Sekarang ini aku sedang memandangi cermin dan fotomu. Tiba-tiba aku menjadi sadar bahwa aku sudah mulai tua. Kerut merut di wajahku sudah semakin banyak dan aku tidak cekatan lagi seperti dulu. Aku sering iri padamu yang selalu ceria, riang, aktif dan penuh dinamika. Akupun pernah mengalami seperti itu dulu.
Anakku,
ketika menikah dengan ayahmu, aku tidak pernah membayangkan akan mempunyai anak seperti kamu. Sungguh, aku bangga padamu. Setelah engkau besar kini, aku baru sadar betapa kecilnya aku ini, betapa tidak berartinya aku. Engkau lahir dan tumbuh semata-mata karena mukjizat dan rahmat Tuhan belaka.
Tak kuingkari memang akulah yang mengandungmu selama sembilan bulan. Saat itu aku selalu gelisah menanti kelahiranmu. Aku selalu menjaga diriku agar bayi di perutku, yaitu kamu, sehat. Dengan susah payah dan sakit kulahirkan engkau. Aku termasuk beruntung karena tidak harus meninggal untuk melahirkanmu. Aku sampai menitikkan air mata bahagia saat mendengar tangis pertamamu yang lucu.
Engkau ini darah dan dagingku sendiri; engkau tumbuh dari bagian tubuhku namun engkau lahir keluar sebagai manusia yang baru sama sekali. Dalam beberapa hal kamu memang mirip aku tetapi selebihnya engkau sungguh baru.
Sejak kecil kurawat engkau dengan sangat hati-hati dan penuh kasih; engkau lebih kuperhatikan dari pada apapun yang pernah kumiliki. Kusuapi dan kususui engkau dengan air yang mengalir dari dadaku sendiri. Bila engkau menangis kugendong dan kuhibur. Kuberi engkau pakaian dan sepatu dan topi yang cocok untukmu. Tak lupa kubelikan juga mainan yang kau gemari; mobil-mobilan atau boneka-boneka yang lucu. Engkau masih ingat masa kecilmu, kan?
Setiap pagi dan sore kumandikan engkau. Bila kau ngompol atau e’ek di celana atau di popok, dengan sabar kubersihkan dan kuganti dengan yang baru.
Paling sedihlah aku, bila kamu sakit. Memang engkau waktu itu hanya makhluk kecil yang tidak berdaya, yang bisa saja kubuang ke kotak sampah atau ke selokan kalau aku mau. Tapi aku cinta padamu, engkau bagian dari hidupku sendiri. Maka kurawat engkau sungguh-sungguh, kubawa engkau ke dokter, kuusahakan agar kau mendapat vaksinasi dan makanan bergizi.
Anakku,
pada waktu masih kecil dulu, kamu sering rewel, ngambeg bila tidak diberi uang jajan, atau sulit bila disuruh mandi. Kau ingat betapa manjanya kamu. Setiap kali kau lari ke pangkuanku bila engkau bertengkar dengan kakakmu, bila dimarahi ayah, atau bila dinakali teman-temanmu. Aku menjadi saksi untuk masa kecilmu yang manja, sehingga aku tak sempat lagi mengurus diri atau pergi sesuka hati.
Kini engkau sudah dewasa,
aku bangga padamu, engkau harapanku. Namun aku sering sedih melihat kelakuanmu; kala engkau bermalas-malasan untuk bangun, kala bermain seharian tak tahu waktu. Hampir-hampir aku menangis bila kuingat betapa sulitnya menyuruhmu belajar, mengerjakan PR, atau mengingatkanmu untuk tidak membolos. Sepertinya kau tidak tahu bahwa ini semua demi kamu sendiri. Sungguh aku tidak bermaksud mau menyengsarakanmu dengan aturan-aturanku. Aku ingin engkau bahagia, bisa hidup pantas di tengah-tengah dunia yang penuh dengan persaingan ini. Kamu harus pandai supaya tidak mati tertelan jamanmu nanti.
Anakku,
betapa sedihnya aku, ketika aku kau tuduh orang tua kolot, orang tua yang tidak mengikuti jaman, atau orang tua kampungan. Aku ingin dipahami bahwa kalau kusuruh kau bergaul tidak sembarangan, berpakaian yang pantas dan mau menghargai orang lain, adalah sungguh-sungguh supaya kamu menjadi manusia yang bermoral, bukan begajulan yang menghancurkan hidupnya dengan mau hidup sebebas-bebasnya.
Kau lihat betapa banyak teman sebayamu yang sudah harus berhenti sekolah untuk mengasuh anak, betapa banyak teman seusiamu jatuh pada obat bius dan pornografi. Anakku, aku tahu engkaupun tidak ingin menjadi seperti itu.
Sungguh kalau aku keras dalam hal ini karena aku tahu betapa halusnya bujukan setan dan betapa beratnya hidup yang tidak tegas terhadap yang jahat. Aku ingin kau pun memahami itu. Hatiku akan hancur bila sikapmu selalu melawan aku, bila kau selalu menganggap dirimu benar sendiri.
Setiap malam aku berdoa untukmu, tak sekejap pun engkau hilang dari hidupku. Bila aku sedang memasak di dapur, yang kubayangkan adalah kepuasan makanmu dan juga kesehatan tubuhmu. Bila aku ikut membantu bekerja, yang kuinginkan engkau tidak terhambat karena biaya. Bila kubenahi kamarmu yang selalu berantakan yang kuinginkan agar kau krasan di rumah. Bila kubelikan kau baju-baju yang modis, aku ingin kau tidak malu pada teman-temanmu. Dan bila aku merawat kesehatan tubuhku sendiri, aku hanya ingin agar aku dapat lebih lama lagi mendampingi dan menyerahkan hidup kepadamu.
Sekarang ini kamu sudah dewasa, banyak hal sudah dapat kau lakukan sendiri. Lambat laun akan terasa bahwa hidupmu memang menjadi tanggung jawabmu sendiri; tidak ada seorangpun yang dapat menggantikannya termasuk ibumu ini. Mohon jangan kecewakan aku dengan sikap keras kepalamu yang kekanak-kanakkan itu. Aku tidak cemburu kalau kamu sekarang sudah melebihi aku dalam segalanya. Aku malah bangga karena Tuhan sudah berkenan membiarkan aku ikut menyaksikan pembentukkan hidupmu. Seperti sebatang lilin, hidupku sudah meleleh habis… dan sebentar lagi pasti akan padam… untuk menerangi hidupmu, anakku. Kini engkau sendiri sudah mulai menyala, lebih terang dari yang kupunya.
Anakku,
kalau engkau memang sulit menerima aku yang sering rewel, kolot atau lamban ini, aku mohon paling tidak kamu mau menghormati ayahmu. Sepanjang hari setiap hari selama bertahun-tahun dia bekerja keras untukmu, hingga tubuhnya lemah, hingga kulitnya kerut merut tertimpa banyak penderitaan. Cintanya padamu membuatnya tidak malu untuk bekerja di tempat-tempat yang kotor, membuatnya tahan duduk berjam-jam menangani tugas-tugas yang membosankan, dan membuatnya setia menjagai kita semua.
Dia juga hanya ingin agar kita ini berbahagia. Anakku, jangan sia-siakan cintanya. Jarang sekali dia mengeluh kala menghadapi beratnya beban kehidupan, tugas-tugas berat dan tuntutan anak-anaknya. Di hadapan kita, dia selalu tersenyum dan tertawa gembira. Kadang-kadang aku merasa kasihan kepadanya kalau dia tidak bisa pulang seharian, kalau tubuhnya yang sudah kecapaian itu harus dipaksa untuk bekerja lagi. Saya sendiri sering merasa bersalah karena rasanya hanya memperlakukan ayah seperti kuda beban atau sapi perahan. Kita bisa beli ini itu, bisa pergi ke sana kemari atau bermain-main dengan santai di rumah, sementara itu dia hanya puas dengan secangkir kopi dan baju yang itu itu saja, dia juga tidak mempunyai banyak waktu untuk bersantai-santai seperti kita. Sungguh anakku, aku mohon hormatilah ayahmu.
Akhirnya,
sebagai orang tuamu aku minta maaf kalau selama ini aku kadang-kadang egois, menuntut terlalu berlebihan, kolot dan keras terhadapmu. Maafkan aku bila aku kurang mengerti kebutuhan-kebutuhan dan dunia mudamu. Kadang aku masih menganggapmu seperti anak-anak yang harus kuatur segalanya agar tidak keliru. Maafkan aku anakku, yang membuat banyak kesalahan atau malah menyengsarakanmu, yang tidak dapat mencintai dengan cara yang cocok dengan keinginanmu. Kata maaf darimu adalah hadiah yang paling kutunggu.
Anakku,
aku sudah kangen kamu. Ingin rasanya kubisikkan aku sayang kamu. Hanya peluk ciumku untukmu.
31 Januari 1992, pekalongan
ibumu

Sewaktu kuliah dulu, saya tinggal di asrama. Hampir semua warga asrama tercatat sebagai pendonor darah. Termasuk saya. Jadi kapanpun ada kebutuhan mendesak dari rumah sakit untuk golongan darah tertentu, kami segera dikontak. Yang saat itu siap, segera diberangkatkan untuk mendonorkan darah.
Dari sekian puluh kali mendonorkan darah, baru sekali saya mendapat pengalaman menarik. Seorang wanita mengalami pendarahan hebat ketika melahirkan. Saya dan satu orang teman mendapat giliran mendonorkan darah. Beberapa minggu kemudian, orang itu datang ke asrama untuk mengucapkan terima kasih. Saya tersentuh ketika dia mengatakan, "Sekarang sebagian hidup mas sudah ada dalam diri saya. Terima kasih, semoga saya tidak menyia-nyiakan kemurahan hati mas." Luar biasa.
Saat itu untuk yang pertama kali saya sadar dengan jelas, sejelas-jelasnya bahwa hidup saya bisa menjadi bagian dari hidup orang lain. Yang saya berikan tidak hilang lenyap begitu saja tetapi hidup pada diri orang lain. Alangkah besar arti pemberian saya bagi orang lain terutama pada saat dibutuhkan.
Sekarang saya semakin sadar, bukan hanya darah, tetapi setiap pemberian yang mengalir dari hidup saya selalu berarti. Mungkin hanya sekeping receh, setangkai senyum tulus, atau selintas sapaan akrab. Seringkali saya tidak tahu apa artinya bagi mereka, tetapi percayalah walaupun mereka sendiri juga tidak terlalu memperhitungkan, pemberian itu pasti berarti.

Satu menit jarang kita perhatikan. Satu demi satu, menit berlalu tanpa kita sadari untuk apa. Sayang sekali.
Saya ingin mengajak teman-teman memanfaatkan satu menit saja dalam sehari untuk berdoa bagi teman yang sedang dalam kesulitan. Beberapa kali saya menerima sms mohon dukungan doa dari teman yang bahkan belum saya kenal sebelumnya. Begitu baca sms orang itu langsung saya doakan. Hanya perlu waktu satu menit. Pada hari itu, saya luangkan waktu satu atau dua menit lagi berdoa untuknya.
Semua orang pasti mengalami kesulitan, penderitaan, duka atau kebingungan. Kadangkala tidak ada teman atau saudara yang tersedia membantu atau setidaknya mendengarkan. Ketika mengirim sms, terbayang pasti ada orang lain yang mau mengerti kesusahannya dan berdoa untuknya.
Marilah teman-teman kita relakan satu menit untuk orang-orang seperti ini. Kita percaya Tuhan akan kekuatan kepada mereka. Bergabunglah dalam BanDo (Bantuan Doa) yang saya buka untuk semua agama. Nanti setiap kali ada teman yang memerlukan bantuan doa sms-nya akan langsung saya pasang di facebook dan saya teruskan ke hp teman-teman. Sejauh orangnya mau (kalau no hpnya saya pasang), teman-teman bisa juga memberikan dukungan, inspirasi, nasehat dsb.
Untuk daftar gabung BanDo sms saja ke 08122706478 atau klik LIKE untuk facebook page Bantuan Doa.

Seorang guru mempunyai murid yang sangat cerdas. Dengan cepat dia dapat mengerti pengajaran gurunya. Pada suatu hari, murid cerdas itu memutuskan untuk tidak berdoa lagi. Aneh.
Ketika sang guru bertanya, ia menjawab, "Bukankah guru selalu mengajarkan bahwa Tuhan itu maha tahu. Dia mengerti betul bagaimana hidupku ini. Seluruh gerak gerikku, semua suka dukaku. Dia juga pasti tahu apa yang kuperlukan, sebelum aku mengatakan kepadaNya. Bukankah Tuhan maha bijaksana. Tanpa dimohon pun dia pasti akan memberikan segala rahmat bantuan yang diperlukan untuk hidupku, agar aku menjadi semakin sempurna."
Ketika sang guru bertanya, ia menjawab, "Bukankah guru selalu mengajarkan bahwa Tuhan itu maha tahu. Dia mengerti betul bagaimana hidupku ini. Seluruh gerak gerikku, semua suka dukaku. Dia juga pasti tahu apa yang kuperlukan, sebelum aku mengatakan kepadaNya. Bukankah Tuhan maha bijaksana. Tanpa dimohon pun dia pasti akan memberikan segala rahmat bantuan yang diperlukan untuk hidupku, agar aku menjadi semakin sempurna."
Kepolisian Houston Texas pernah menyebarkan selebaran yang berisi tata cara membesarkan anak supaya menjadi nakal. Isinya sebagai berikut:
- Sejak masih bayi, berikan yang diminta. Biarlah dia percaya bahwa dunia akan selalu memberinya kehidupan.
- Jika ia mengucapkan kata-kata yang tidak pantas, tertawalah. Itu akan membuatnya merasa pintar dan nantinya berani memakai kata-kata yang membuat kepalamu meledak.
- Jangan pernah memberikan pendidikan rohani. Tunggulah hingga dewasa dan biarkan dia mengambil keputusan sendiri.
- Hindarilah penggunaan kata "kamu salah" karena itu bisa membangkitkan rasa bersalah dalam hatinya. Biarlah dia merasakan sendiri apa artinya bersalah ketika ditangkap karena berbuat kriminal, dimusuhi masyarakat dan dikejar-kejar.
- Bereskan semua barang yang ditaruhnya secara sembarangan: sepatu, buku atau baju. Kerjakan itu untuknya sehingga dia berpengalaman melemparkan tanggung jawab kepada orang lain.
- Biarkan dia membaca buku atau majalah apa saja.
- Sering-seringlah bertengkar di depan anak-anak. Dengan begitu mereka tidak akan terlalu terguncang ketika akhirnya rumah tanggamu berantakan.
- Berikan kepada anakmu berapapun uang yang diminta. Jangan pernah membiarkan dia menghargai apa yang dimilikinya.
Share
Rasa takut seringkali tanpa sadar menguasai hidup kita. Demi menjaga rasa aman, teruslah kita menjalani hidup seperti hari-hari sebelumnya, atau seperti sembilan puluh sembilan persen orang yang lain. Itu aman, tidak beresiko.
Coba keluarkan sedikit keberanianmu. Mengapa tidak mencoba hal atau cara yang baru. Kamu tidak akan tahu asin pahitnya sebelum mencicipi. Rasakan sensasi baru. Masuki wilayah baru dalam pengembaraan hidupmu.
Ada ketakutan yang rasional, tetapi sebagian besar ketakutan kita berasal dari bawaan sel mati dalam tubuh kita yaitu: malas berubah. Ingin tetap diam, bertahan. Kalau kemudian direnungkan atau dipikirkan lebih jauh, sungguh banyak ketakutan yang tidak beralasan.
Berlatihlah kritis terhadap ketakutanmu sendiri dan belajarlah menjadi manusia yang berani. Nikmatilah hidup yang penuh warna.
Coba keluarkan sedikit keberanianmu. Mengapa tidak mencoba hal atau cara yang baru. Kamu tidak akan tahu asin pahitnya sebelum mencicipi. Rasakan sensasi baru. Masuki wilayah baru dalam pengembaraan hidupmu.
Ada ketakutan yang rasional, tetapi sebagian besar ketakutan kita berasal dari bawaan sel mati dalam tubuh kita yaitu: malas berubah. Ingin tetap diam, bertahan. Kalau kemudian direnungkan atau dipikirkan lebih jauh, sungguh banyak ketakutan yang tidak beralasan.
Berlatihlah kritis terhadap ketakutanmu sendiri dan belajarlah menjadi manusia yang berani. Nikmatilah hidup yang penuh warna.
Rumput liar di halaman rumah memberikan inspirasi ini. Pernah suatu kali saya membiarkan rumput-rumput liar yang masih kecil-kecil. Saya pikir tunggu sebentar lagi supaya lebih gampang dicabut. Beberapa hari kemudian, rumput-rumput itu sudah cukup tinggi dan saya cabut. Betul memang gampang. Tapi tahukah yang terjadi kemudian? Di sekeliling bekas rumput-rumput yang saya cabut itu sudah tumbuh banyak sekali rumput-rumput muda. Rupa-rupanya sambil bertumbuh rumput-rumput itu juga beranak pinak.
Begitulah dalam hidup. Kita sering menyepelekan masalah karena nampaknya kecil. Tidak berpotensi membuat gangguan. Padahal yang kisah rumput itu benar-benar sama kasusnya dengan hidup manusia. Problem yang sekecil apapun kalau dibiarkan pasti memiocu problem baru yang lebih besar dan lebih banyak.
Begitulah dalam hidup. Kita sering menyepelekan masalah karena nampaknya kecil. Tidak berpotensi membuat gangguan. Padahal yang kisah rumput itu benar-benar sama kasusnya dengan hidup manusia. Problem yang sekecil apapun kalau dibiarkan pasti memiocu problem baru yang lebih besar dan lebih banyak.
Inspirasi ini datang dari kata-kata Lincoln. "Setetes madu menarik lebih banyak tawon dibanding segalon barang yang pahit. Pepatah kuno ini benar sekali. Maka, bilmana Anda ingin menarik orang lain pada pendapat Anda, pertama-tama yakinkan dia bahwa Anda adalah temannya yang tulus. Itulah setetes madu yang akan menawan hatinya; dan itulah cara yang mulus untuk mempengaruhi pendapatnya."
Kalau kamu ingin sukses dalam pergaulan, atau sukses dalam bidang apapun selalu ingatlah untuk berhati-hati untuk mencela atau menyalahkan. Sebaliknya selalu bermurahlah untuk memuji, melihat sisi baik dari orang lain.
Kalau kamu ingin sukses dalam pergaulan, atau sukses dalam bidang apapun selalu ingatlah untuk berhati-hati untuk mencela atau menyalahkan. Sebaliknya selalu bermurahlah untuk memuji, melihat sisi baik dari orang lain.
Kata-kata inspirasi ini saya ambil dari Schopenhauer.
Wajar kalau orang mempunyai kebutuhan untuk diakui. Ketika melihat teman memperoleh prestasi, kita juga sering berkata, "saya juga bisa". Kata-kata ini seringkali tidak hanya disimpan untuk diri sendiri tetapi diungkapkan kepada orang lain. Mengapa? Kita ingin orang lain tahu dan mengakui bahwa saya juga berarti. "Kalau ada kesempatan dan keberuntungan yang sama, saya juga bisa."
Menjadi sesuatu yang tidak wajar atau tidak berbudaya ketika keinginan untuk diakui ini terungkap dalam bentuk negatif, yaitu mengejek dan menjelek-jelekkan.
"Dia naik jabatan khan karena bisa mengambil hati boss."
"Main suap dia ..."
Ejekan seperti itu atau yang sejenisnya mengungkapkan hal yang sama. Saya juga berarti. "Saya tidak naik jabatan atau meraih prestasi itu, tapi khan saya tidak melakukan hal buruk seperti dia!"
Apa yang terjadi kemudian? Mungkin saja orang mendengar kata-kata ejekanmu akan mengiyakan bahkan menambahi. Dia orang yang sama denganmu. Mencari nama dengan menjatuhkan reputasi orang lain. Semacam pembunuhan karakter.
Sebaliknya pasti ada orang yang justru akan langsung mengarahkan perhatian kepada pribadimu. Bukan dengan respek tetapi malah jijik. Kamu sudah salah langkah: membuka sendiri sisi kasar dan irasional dari pribadimu. Orang yang senang bergosip sulit dipercaya.
Begitulah, menyalahkan dan menjelek-jelekkan orang besar (berprestsi) bukan cara yang tepat untuk mengatakan bahwa dirimu juga penting. Buktikan saja dengan kemampuan dan ciri khas pribadimu sendiri ... Orang akan menghormatimu.
Wajar kalau orang mempunyai kebutuhan untuk diakui. Ketika melihat teman memperoleh prestasi, kita juga sering berkata, "saya juga bisa". Kata-kata ini seringkali tidak hanya disimpan untuk diri sendiri tetapi diungkapkan kepada orang lain. Mengapa? Kita ingin orang lain tahu dan mengakui bahwa saya juga berarti. "Kalau ada kesempatan dan keberuntungan yang sama, saya juga bisa."
Menjadi sesuatu yang tidak wajar atau tidak berbudaya ketika keinginan untuk diakui ini terungkap dalam bentuk negatif, yaitu mengejek dan menjelek-jelekkan.
"Dia naik jabatan khan karena bisa mengambil hati boss."
"Main suap dia ..."
Ejekan seperti itu atau yang sejenisnya mengungkapkan hal yang sama. Saya juga berarti. "Saya tidak naik jabatan atau meraih prestasi itu, tapi khan saya tidak melakukan hal buruk seperti dia!"
Apa yang terjadi kemudian? Mungkin saja orang mendengar kata-kata ejekanmu akan mengiyakan bahkan menambahi. Dia orang yang sama denganmu. Mencari nama dengan menjatuhkan reputasi orang lain. Semacam pembunuhan karakter.
Sebaliknya pasti ada orang yang justru akan langsung mengarahkan perhatian kepada pribadimu. Bukan dengan respek tetapi malah jijik. Kamu sudah salah langkah: membuka sendiri sisi kasar dan irasional dari pribadimu. Orang yang senang bergosip sulit dipercaya.
Begitulah, menyalahkan dan menjelek-jelekkan orang besar (berprestsi) bukan cara yang tepat untuk mengatakan bahwa dirimu juga penting. Buktikan saja dengan kemampuan dan ciri khas pribadimu sendiri ... Orang akan menghormatimu.

Saya mendapat inspirasi ini dari sepasang sandal jepit yang sudah sangat tipis bahkan bolong. Bukan dia yang membisikkan kebijaksanaan tetapi si pemiliknya. Ketika saya tanya mengapa sandal seperti itu masih dipakai. Yang sudah biasa saya dengar: "Maklum saja, ngga ada uang untuk beli sandal ..." atau yang sejenis. Ternyata jawaban yang saya dengar kemudian betul-betul di luar dugaan.
"Oh ini sandal luar biasa, multi fungsi. Selagi tetap memberi rasa --memakai sandal-- sekaligus memberikan efek pijat refleksi. Coba saja."
Saya pun mencoba.
Ibu Suriteladan sangat bergembira ketika tahu anaknya walaupun belum sekolah tapi sudah mulai bisa membaca. Semua berkat ketekunan dia dan suaminya mengajari anak terkasih itu.
"Pa saya senang sekali, anak kita ternyata betul-betul cerdas. Sebagai tanda senang, mari kita ajak dia ke toko. Kita belikan dia mainan apapun asal dia bisa membaca tulisan harganya dengan benar. Setuju ngga pa?"
"Setuju, setuju."
Sorenya mereka bertiga pergi ke toko mainan. Ibu Suriteladan berpikir anaknya pasti suka boneka beruang. Harganya 50 ribu. Tidak apa-apa, mahal sedikit untuk hadiah ini.
"Coba pa, suruh anak kita membaca label harganya."
"Nak ... ini tulisan berapa?"
"Pa saya senang sekali, anak kita ternyata betul-betul cerdas. Sebagai tanda senang, mari kita ajak dia ke toko. Kita belikan dia mainan apapun asal dia bisa membaca tulisan harganya dengan benar. Setuju ngga pa?"
"Setuju, setuju."
Sorenya mereka bertiga pergi ke toko mainan. Ibu Suriteladan berpikir anaknya pasti suka boneka beruang. Harganya 50 ribu. Tidak apa-apa, mahal sedikit untuk hadiah ini.
"Coba pa, suruh anak kita membaca label harganya."
"Nak ... ini tulisan berapa?"
Pepatah Irlandia ini memberi kita inspirasi yang bagus. Kalau diartikan apa adanya memang bisa menjadi bahan perdebatan. Orang akan mengatakan, tentu saja ikan tetap ikan entah di manapun, dipancing atau tidak.
Inspirasi kali ini saya ambil dari buah kebijaksanaan Erasmus.
Mencintai sejauh hanya soal rasa dan kata-kata sebagai ungkapannya, memang tidak sulit. Yang sulit adalah betul-betul mewujudkan rasa dan ungkapan hati mencintai. Dimana letak sulitnya?
Mencintai sejauh hanya soal rasa dan kata-kata sebagai ungkapannya, memang tidak sulit. Yang sulit adalah betul-betul mewujudkan rasa dan ungkapan hati mencintai. Dimana letak sulitnya?









